Parapsikologi dan Metafisika

EXTRASENSORY PERCEPTION (ESP)

Posted on: Agustus 20, 2010

Secara bahasa, ESP (extrasensory perception) jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira bisa diartikan sebagai “penerimaan oleh indera khusus”. Maksudnya indera khusus yaitu indera yang di luar panca indera kita (penciuman, perabaan, pendengaran, penglihatan dan pembicaraan). Jadi, ESP dapat diartikan sebagai sensor informasi yang diterima oleh individu melebihi lima panca inderanya yaitu mencium, melihat, merasa, mendengar, dan meraba. Kemampuan ini dapat menyediakan informasi dalam bentuk waktu saat ini, masa lalu dan masa depan. Kemampuan panca indera yang dimiliki individu yang memiliki ESP juga bernilai lebih, seperti orang ESP dapat merasakan, mendengar, melihat hal-hal yang tidak terlihat pada orang pada umumnya (Schmeidler, 1994).
ESP terkadang menyerahkan begitu saja sebagai sixth sense suatu insting yang mendalam, firasat atau dugaan, getaran yang aneh atau intuisi. Tingkatan ini menunjukkan sumber informasinya dipastikan tidak dapat dijelaskan secara ilmiah (Rhine, 1957).

Extrasensory perception (ESP) sudah dikenalkan semenjak tahun 1870 oleh Sir Richard Burton. Seorang peneliti Perancis, Dr. Paul Joire, pada tahun 1892 menggunakan ESP untuk menjelaskan kemampuan seseorang yang memiliki kemampuan hipnotis atau kemampuan dimana orang tersebut dalam keadaan tak sadarkan diri dapat mengetahui berbagai rasa yang ada di luar tanpa menggunakan indera yang dimilikinya.
Sekitar tahun 1920-an, Ophthalmogist di Munich, Dr. Rudolph Tischner, menggunakan ESP daam menggambarkan the “externalization of sensibility”. Lalu sekitar tahun 1930-an, The American Parapsychologist, J. B. Rhine mempopulerkan masa ini (ESP) dalam mengikutsertakan fenomena psikis dengan fungsi sensory. Sistem studi pertama pada ESP sudah dilakukan pada tahun 1882, di saat komunitas penelitian fisikal sudah menemukannya di London.

Tipe-tipe dalam ESP menurut Ensiklopedia Wikipedia, yaitu:
a. Clairvoyance dan Remote viewing, yaitu kepekaan yang lebih dalam penglihatan terhadap orang, tempat atau situasi secara langsung tanpa bantuan indera-indera normal lainnya.
b. Precognition atau Retrocognition, yaitu penglihatan yang bekerja melampaui atau melalui waktu.

c. Kemampuan membaca aura dan intuisi medis, yaitu penglihatan atau persepsi tentang beberapa aspek manusia, seperti aura, yang manusia lainnya tidak dapat melihatnya.
d. Psychometry, Clairaudience, Clairsentience, Clairalience dan Clairgustance, yaitu penglihatan atau persepsi yang dimiliki terhadap suatu aspek yang tidak dapat dirasakan orang lain melalui indera normalnya.
e. Telepathy, yaitu merupakan suatu hubungan antara kesadaran-kesadaran dari dua orang atau lebih tanpa adanya bantuan-bantuan indera yang kelihatan atau nyata.
f. Out-of-body experiences sering disebut juga dengan meraga sukma/astral projection yaitu pengalaman dalam memisahkan roh dari tubuhnya.
g. Mediumship, yaitu kemampuan berkomunikasi dengan roh seseorang atau binatang yang sudah meninggal.
h. Psychokinesis, yaitu kemampuan untuk menggerakkan objek dengan pikiran tanpa menyentuhnya atau memanipulasinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: